Kisah Aneh Banwoldang – Volume 3
<Chapter 72>
"Kalian semua tidak nonton televisi ya? Dulu aku meraup banyak uang dari berbagai acara. Tuntutan untuk membuat orang lain tertawa adalah beban yang sangat besar. Karena aku terus bersikap temperamental, orang-orang di sekitarku mulai menjauh dan popularitasku ikut menurun. Suatu malam, saat sedang minum wiski sendirian, tiba-tiba aku terkena serangan jantung. Karena tidak ada orang yang bisa memanggilkan ambulans, aku pun mati."
"Lalu apa hubungannya hal itu dengan menaburkan beras?"
"Itu sekadar pertunjukan saja."
"Pertunjukan?"
"Bakat."
"Ah, bakat pribadi hantu."
Benar-benar macam-macam saja kelakuannya. Yu-dan menelankembali
i ucapan itu di dalam hati.
"Pokoknya saat aku sadar, aku sudah menjadi Hantu Beras Mentah. Yah, ternyata ini cukup cocok denganku. Melihat orang yang hidup bahagia membuatku merasa kesal. Terutama keluarga, aku sangat membencinya. Rasanya aku ingin sekali menghancurkan kebahagiaan mereka."
"Lalu, Paman tidak punya permintaan terakhir?"
"Entahlah. Aku akan memikirkannya."
"Hmm..."
Yu-dan menoleh. Pandangannya langsung bertemu dengan pupil mata yang mengintip dari sela-sela rumpun bambu.
"Kau mau terus bersembunyi seperti itu?"
"Tidak."
Seorang gadis remaja berambut pendek sebahu berjalan keluar. Jika bukan karena wajahnya yang pucat kebiruan dan sebagian tubuhnya yang tembus pandang, dia benar-benar terlihat seperti siswi SMP biasa.
"Di usia semuda ini, bagaimana kau bisa meninggal?"
"Mungkin usiaku cuma beda satu atau dua tahun darimu."
"Terserah."
"Aku punya penyakit langka bawaan. Menjadi hantu setelah selama ini hanya berbaring di ruang rawat rumah sakit ternyata lumayan menyenangkan. Aku bisa berkeliling melihat bagaimana orang lain hidup, rasanya sangat menyenangkan."
"Anak yang aneh. Omong-omong, kau bilang permintaanmu adalah bertemu dengan penyanyi dan meminta tanda tangannya, kan?"
"Iya. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, Lee Se-min itu sangat populer, jadi sehebat apa pun pengusir hantu, pasti akan sulit untuk bertemu dengannya."
"Aku bukan pengusir hantu."
"Apapun itu, aku mau ganti permintaan. Siapa pun artisnya tidak apa-apa. Asalkan artis yang pernah kulihat di televisi."
"Ya sudah, terserahlah."
Yu-dan menatap hantu terakhir yang tersisa. Sebuah Boneka Badut.
"Kalau kau, apa permintaan terakhirmu?"
"Tidak ada yang seperti itu."
Terdengar jawaban yang lesu.
"Bernapas saja rasanya malas, apanya yang permintaan."
"Ah, apakah kau juga bunuh diri?" tanya Hantu Video.
Semua mata membulat menatapnya. Yu-dan lalu bertanya.
"Kenapa kau bunuh diri?"
"Karena gagal ujian masuk universitas. Aku siswa yang sudah mengulang tiga kali."
Keheningan kembali menyelimuti.
"Memangnya kau ingin masuk ke universitas mana?"
"Haruskah aku mencoba pergi ke sana sekali saja?"
"Lakukan saja kalau begitu."
Gadis itu membalas dengan nada lesu.
Yu-dan bangkit berdiri. Mungkin beruntung dia bisa menemukan setidaknya satu petunjuk.
Dia langsung pergi untuk naik kereta bawah tanah.
Universitas swasta yang ingin dituju Hantu Video tidaklah jauh.
Melihat para mahasiswa yang berjalan masuk melalui gerbang utama yang megah bagaikan kastil, gadis itu barulah menunjukkan reaksinya.
"Kalau dipikir-pikir, saat masih hidup aku belum pernah datang ke sini sekalipun."
Hantu Video memasuki area universitas.
Awalnya dia merasa canggung dan terus memperhatikan sekeliling, tetapi setelah beberapa kali memastikan bahwa tidak ada yang mempedulikannya, dia mulai berkeliling dengan sungguh-sungguh.
Spanduk penolakan kenaikan biaya kuliah yang tergantung di pepohonan. Poster bursa kerja. Para mahasiswa yang berjalan tergesa-gesa ke perpustakaan sambil membawa buku tebal.
Pemandangan orang-orang yang duduk berkumpul di halaman rumput sambil memesan Jajangmyeon. Dia menatap semua itu dengan pandangan yang asing.
"Hee, inikah yang namanya universitas."
Yu-dan dan para hantu mengikutinya dalam diam.
Gadis itu mengintip ke sana kemari dari satu gedung ke gedung lain, lalu mencoba duduk di sebuah bangku.
Dia menatap sejenak kopi yang baru diminum setengah lalu ditinggalkan oleh seseorang, kemudian kembali bangkit berdiri.
Mahasiswa dan mahasiswi yang mengenakan jas lab tertawa dan mengobrol saat melintas melewatinya.
Gadis itu memandangi punggung mereka. Rambutnya yang tadinya berantakan kini menjadi lebih rapi. Baju berkabung putih yang ia kenakan perlahan memudar dan berubah menyerupai jas lab putih.
Jika dengan penampilan seperti itu, bukankah dia sudah bisa menampakkan diri keluar?
Yu-dan membuka bukunya dan membacakan cerita horor itu.
Sosok gadis itu pun muncul di sebelah papan pengumuman. Terlihat sangat alami, seolah-olah dia memang sudah berdiri di sana sejak tadi. Sekelompok siswi SMA yang melihatnya pun berjalan menghampirinya.
"Permisi, gedung kemahasiswaan ada di mana ya?"
Gadis itu terkesiap kaget. Namun, dia segera menjawab dengan tenang.
"Gedung ini adalah gedung kemahasiswaan."
"Terima kasih."
"Terima kasih."
Siswi-siswi SMA itu menundukkan kepala memberi salam. Mereka saling menyikut dan berbisik-bisik, lalu salah satu dari mereka berseru.
"Sampai jumpa tahun depan, Kak!"
Mereka tertawa terkikik-kikik, saling menepuk punggung, lalu berlalu pergi.
Hantu itu menatap kepergian mereka dengan pandangan kosong.
Yu-dan mendekatinya.
"Bagaimana rasanya menjadi anak kuliahan?"
"Aha..."
Gadis itu bergumam setelah beberapa lama.
"Ternyata tidak ada yang istimewa."
"Begitukah?"
"Ya. Benar-benar tidak ada yang istimewa. Tetapi kenapa dulu saat aku gagal, rasanya seolah-olah seluruh hidupku sudah berakhir? Seharusnya aku bisa mengibaskannya begitu saja dan kembali menantangnya dengan keren."
Gadis itu menatap ke arah Yu-dan dengan senyum getir.
"Sekarang semuanya sudah terlambat."
"Entahlah. Bukankah hantu biasanya juga bereinkarnasi dan semacamnya? Walaupun aku kurang tahu, sepertinya prosesnya tidak akan seketat ujian masuk perguruan tinggi."
"Baguslah. Kalau begitu, kali ini aku harus menyelesaikannya sebelum mengulang untuk yang ketiga kalinya."
Gadis itu tersenyum kepada Yu-dan.
"Kau jangan hidup sepertiku. Hiduplah dengan keren."
Setelah meninggalkan kata-kata itu, dia melangkah pergi. Dia berbaur di antara para mahasiswa, dan kemudian segera menghilang.
Ternyata memang tidak sulit. Seperti kata siluman rubah, aku hanya perlu mendorong punggung mereka sedikit.
Hantu-hantu lainnya memandangi tempat gadis itu menghilang. Roh sang pelawak tiba-tiba bersuara.
"Tiba-tiba aku ingin pergi ke sana."
"Ke mana?"
"Ada seorang wanita yang dulu kuhamili lalu kutinggalkan."
"Apa?"
Yu-dan merasa terkejut setengah mati. Hantu-hantu lainnya juga ikut terkejut. Si pelawak langsung merasa kikuk.
"Aku tahu aku salah. Saat itu aku masih belum dewasa."
"Memangnya saat itu umurmu berapa?"
"Tiga puluh delapan."
"Kau bercanda?"
"Jangan marah. Menakutkan tahu. Sebenarnya aku merasa takut. Fakta bahwa aku memiliki anak membuatku sangat ketakutan."
"Apanya yang menakutkan! Bukankah Paman juga lahir dengan cara seperti itu? Aku benar-benar benci orang yang menelantarkan anaknya! Kemari! Biar kumusnahkan saja sekalian!"
"Tenanglah. Sebagai gantinya aku memberinya banyak uang. Jika ditotal, sepertinya aku memberinya ratusan juta Won. Termasuk apartemen di Gangnam."
"Buat apa punya banyak uang! Kalau dia tidak punya ayah!"
"Soal itu kau juga tidak perlu khawatir. Dia sudah bertemu dengan pria yang jauh lebih baik daripada bajingan sepertiku, dan sekarang mereka hidup sangat bahagia mengelola kafe bersama."
Eh?
Yu-dan kembali menatap pelawak itu dengan tatapan heran.
"Katanya kau menelantarkannya di masa lalu, tapi kau tahu persis keadaannya sekarang ya?"
"Meskipun aku diam saja, kabarnya terus terdengar. Pokoknya aku berpikir untuk pergi ke sana sebentar, lalu merelakannya dan pergi. Hari ini hari Sabtu, kan? Kalau pergi sekarang, pasti tepat waktunya kelas intensif TK bahasa Inggrisnya selesai."
"Apakah kabar yang kau dengar sambil diam saja itu juga mencakup hal sedetail itu?"
Pelawak itu menghindari tatapannya.
Mereka naik kereta bawah tanah dan kali ini menuju Gangnam. Pria itu memimpin jalan dengan familier.
"Ayo kita keluar lewat Pintu Keluar Lima. Pintu Tiga memang lebih dekat, tetapi karena tepat di sebelahnya ada gereja besar, rasanya agak membuatku enggan."
Yu-dan menatapnya dengan tajam.
"Sudah kuduga kau bukan baru ke sini satu dua kali, kan?"
"Sebenarnya aku memang sudah datang beberapa kali dan melihat anak itu dari jauh."
"Berapa kali?"
"Ah, kau ini cerewet sekali. Benar! Agak sering kulihat! Aku cuma mengintip dari tempat persembunyian! Kalaupun aku ingin mengajaknya bicara, aku tak punya keberanian. Ngomong-ngomong, sekarang jam berapa?"
"Jam satu."
"Terlalu cepat datang huh. Kita harus menunggu tiga puluh menit lebih. Permisi, tapi bisakah kau membelikanku satu jus stroberi di minimarket?"
"Kenapa minta belikan sambil melihat reaksiku begitu! Lagipula aku kemari memang untuk mengabulkan permintaanmu!"
Yu-dan membentaknya dengan marah, lalu pergi membelikan jus stroberi.
Si pelawak memasuki kompleks apartemen, dan tanpa ragu langsung duduk di sebuah bangku di dalam sana.
"Kalau begitu panggil aku keluar."
"Baiklah."
Yu-dan membaca kisah horor Hantu Beras Mentah.
Wujud hantu itu termaterialisasi dan muncul. Ia telah membuang wig dan hanbok-nya, tampil sebagai seorang pelawak paruh baya yang gempal dan berwajah licik.
Yu-dan dan para hantu duduk di bangku menunggu.
Sesekali, seorang ibu yang mendorong kereta bayi lewat. Terlihat sebuah keluarga yang memuat tikar dan kotak es ke bagasi mobil seolah akan pergi piknik. Pelawak itu memandangi mereka.
"Apa jalannya macet? Tumben sekali hari ini terlambat."
Lewat pukul satu empat puluh menit, sebuah mobil van kuning melaju pelan memasuki area tersebut. Si pelawak merasa gugup hingga berulang kali mengepal dan membuka tangannya.
Seorang guru berambut pirang dan bermata biru menggendong dan menurunkan anak-anak satu per satu. Karena lokasinya di dalam kompleks apartemen, mereka semua berjalan pulang ke rumah masing-masing dengan sendirinya.
Di antara mereka, seorang anak menarik perhatian. Tubuhnya kecil dan wajahnya tampak cerdik.
Si pelawak mengawasinya dengan wajah cemas, lalu seakan telah memutuskan sesuatu, ia langsung melompat berdiri saat bocah itu melintas di depannya.
Namun, ia kembali duduk.
"Benar juga, aku tidak punya keberanian."
"Katanya kau pelawak? Kau sudah sering berdiri di atas panggung, kan."
"Ini berbeda. Aku ini orang yang sangat jahat."
Yu-dan segera melompat maju dan menghadang langkah bocah yang baru saja hendak masuk ke apartemen. Bocah itu terkejut. Karena ketakutan, matanya membesar seperti bola mata sapi.
"Kak, aku minta maaf."
"Ji-hong."
Si pelawak melangkah mendekat. Anak itu semakin terkejut.
"Paman mengenalku?"
"Tentu saja, aku tahu. Aku tahu semua tentangmu. Kau suka stroberi, kan?"
Pelawak itu menyodorkan botol jusnya. Bocah itu menerimanya dengan wajah ruang.
"Aku baru pertama kali mencoba jus yang ini!"
"Apa? Memangnya ayahmu tidak pernah membelikan barang seperti ini?"
"Iya. Dia sama sekali tidak mau membelikannya. Dia cuma mau membelikanku yang organik."
Dada pelawak itu terasa sesak karena haru.
"Hei, nak! Aku jauh lebih kaya daripada ayah barumu... dulu aku kaya."
"Uh! Ayah baru itu rahasia! Aku jugaa pura-pura tidak tahu!"
Mata bocah itu membulat kaget.
Si pelawak menjadi salah tingkah dan tiba-tiba memutar tubuhnya.
"Apakah pantatku sebesar itu?"
"Biasa saja."
"Hihi. Belajarlah dengan rajin. Sampai jumpa."
Bocah itu memiringkan kepalanya bingung, lalu memegang erat botol jusnya dan berlari menuju rumah. Si pelawak menatap punggung bocah kecil yang berlari riang itu dengan tatapan kosong.
"Sekarang datang pun sudah tidak ada gunanya."
"Makanya, harusnya saat kau masih ada, kau perlakukan dia dengan baik."
"Perkataanmu benar."
Ia menatap Yu-dan dengan senyum kecut.
"Kau jangan hidup sepertiku. Kau harus berbuat baik pada orang-orang di sekitarmu. Dengan begitu, setidaknya kau tidak akan memukul-mukul dadamu karena menyesal. Hanya dengan begitu saja hidupmu sudah bisa dibilang sukses."
"Selamat tinggal. Terima kasih."
Sosoknya menghilang secara tiba-tiba.
Hampir pada saat yang bersamaan, bocah yang tadi keluar lagi. Seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya berlari menyusulnya dengan tergesa-gesa dengan lilitan handuk di kepalanya.
Uh, gawat.
Yu-dan segera memegang erat Gwimyeongbu dan melarikan diri. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apa pun, namun jantungnya berdebar kencang takut jika bocah itu mengenalinya. Ia merasa lega setelah berhasil keluar dari kompleks apartemen itu.
Dengan begitu dua hantu sudah dipulangkan, dan sekarang tersisa dua lagi. Hantu Celah dan Hantu Boneka.
Saat mata mereka bertatapan, gadis itu segera berkata.
"Jadi pengusir hantu sangat melelahkan."
"Berapa kali harus kubilang kalau aku bukan pengusir hantu, baru kau mengerti?"
"Pokoknya aku mau ganti permintaan lagi."
"Lagi?"
"Jadikan aku asistenmu."
"Jangan bercanda. Kau juga target yang harus kupulangkan."
Namun, gadis itu tidak mendengarkannya dan malah bertanya pada si boneka.
"Kenapa kau bisa mati?"
"Aku..."
Hantu Boneka Badut itu masih terlihat suram dan tak berdaya. Namun, ada yang berbeda dari sebelumnya. Setidaknya sekarang ia tampak memiliki keinginan untuk mengobrol.
"Bisa dibilang bunuh diri pasif?"
"Apa maksudnya?"
Ketika Yu-dan bertanya, hantu itu mengangkat bahu.
"Sebenarnya aku itu adalah sosok yang sering muncul di berita. Seorang Hikikomori (penyendiri yang mengurung diri)."
"Aha."
"Tidak ada hal khusus yang ingin aku lakukan. Namun, karena berpikir aku harus bekerja, aku pun mengirim banyak lamaran ke sana kemari tetapi ditolak semua. Mungkin setelah sekitar setahun begitu. Suatu hari, tiba-tiba aku merasa ingin menyerah pada semuanya. Aku mengurung diri di kamar dan cuma main komputer. Ayah dan kakak lelakiku juga akhirnya menyerah kepadaku. Pada akhirnya, bahkan ibuku juga ikut menyerah. Entah karena dia sudah malas menyiapkan makanan, dia hanya memberiku mi instan yang sudah lembek sehari sekali, atau kadang dua hari sekali..."
"Kalau memang itu yang membuatmu tak puas, seharusnya kau memasak sendiri."
Yu-dan yang sedari tadi mendengarkan pun akhirnya berkomentar. Gadis itu juga setuju.
"Benar. Kau harusnya tahu berterima kasih. Memangnya ada hukum yang mewajibkan ibu harus berkorban tanpa syarat? Ibuku juga, pada akhirnya dia sangat kelelahan merawatku."
"Benar sekali. Siapa yang mengurung diri duluan di kamar. Siapa yang menancapkan paku di dada duluan."
"Kau seharusnya bersyukur karena kau sehat. Aku, meskipun aku ingin keluar, aku tidak bisa keluar."
Karena dihujani kecaman, hantu boneka itu pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ya. Kalian benar. Saat aku memikirkannya sekarang, sepertinya saat itu seharusnya aku memang melangkah keluar. Namun, saat itu aku sama sekali tidak memiliki semangat apa pun. Lalu, pada suatu hari komputerku mati, dan saat aku bangkit untuk menyalakannya kembali, aku menginjak sesuatu dan terpeleset. Darah mengalir deras dari kepalaku. Namun entah kenapa perasaanku malah menjadi lega. Dengan pikiran bahwa lebih baik aku mati saja demi kebaikan semua orang, aku pun hanya diam saja di sana."
Ia menghela napas panjang.
"Segalanya terasa sangat malas bagiku. Mungkin karena itulah aku berubah menjadi Hantu Boneka. Karena cuma dengan duduk diam saja, orang-orang akan terkejut dengan sendirinya. Meski begitu, setelah berkeliling di luar seperti ini hari ini, tiba-tiba aku ingin bertemu dengan ibuku sekali saja."
"Baguslah. Pergilah dan minta maaf. Rumahmu di mana?"
"Sepertinya setelah kejadian itu mereka pindah. Tapi aku bisa menemukannya. Ada peta di dalam kepalaku, dan seperti ada lampu yang terus berkelap-kelip di sana. Kalau tidak salah, itu di sekitar Distrik Nowon."
"Hari ini kita sungguh mengelilingi seluruh Seoul heh."
Yu-dan akhirnya kembali menaiki kereta bawah tanah.
Meskipun hantu itu bilang bisa menemukannya, Yu-dan seharusnya tidak langsung mempercayainya. Hantu Hikikomori itu terus tersesat.
Ia sempat keluar dari stasiun namun masuk lagi, dan naik bus lalu pindah ke bus arah berlawanan. Berbeda dengan si pelawak, sepertinya dia belum pernah mengunjunginya sekali pun. Hantu Celah yang sedari tadi melompat kegirangan ingin menjadi asistennya pun ikut kelelahan.
"Apakah masih jauh?"
"Sudah hampir sampai."
Hantu boneka itu mengulang-ulang perkataannya selama sekitar dua jam hingga akhirnya dia menemukan jalan yang benar. Ia membimbing jalan dengan melayang-layang di depan.
"Di sini."
Padahal Yu-dan sempat merasa aneh karena tempat itu bukanlah kompleks apartemen maupun perumahan. Di tempat Hantu Hikikomori itu berhenti, terdapat sebuah rumah sakit kecil.
Terlihat papan reklame besar bertuliskan 'Rumah Sakit Perawatan'.
Hantu itu terlihat sangat panik. Getaran energinya bisa dirasakan jelas.
. . .. .... ........
